Banjir kembali merendam kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, akibat luapan Sungai Citarum yang belum juga surut.
Meski kondisi air masih menggenangi permukiman dan sebagian akses jalan terputus akibat banjir yang belum juga surut, warga dan pelajar di Dayeuhkolot tetap berusaha menjalankan aktivitas sehari-hari dengan penuh keterbatasan, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga memenuhi kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda, meskipun harus menempuh risiko dan kondisi yang jauh dari kata nyaman. Simak selengkapnya hanya di Kisah dan Inspirasi dari Masyarakat.
Banjir Dayeuhkolot Yang Tak Kunjung Surut
Kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kembali menjadi langganan banjir akibat meluapnya Sungai Citarum. Hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir membuat air tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga masuk ke permukiman warga dan bertahan lebih lama dari yang diharapkan.
Kondisi ini menyebabkan sejumlah aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari mobilitas harian hingga kegiatan ekonomi kecil yang menjadi sumber penghidupan utama. Banyak ruas jalan berubah menjadi genangan air berwarna keruh yang menyulitkan kendaraan maupun pejalan kaki untuk melintas.
Di Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, situasi tersebut sudah menjadi pemandangan yang berulang setiap musim hujan. Air seolah bukan lagi bencana sesaat, melainkan kondisi yang harus dihadapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kehidupan Warga Di Tengah Genangan Air
Di tengah banjir yang belum juga surut, warga tetap berusaha menjalankan aktivitas harian mereka meski dengan berbagai keterbatasan. Banyak di antara mereka yang tetap harus keluar rumah untuk bekerja atau mencari kebutuhan pokok demi bertahan hidup.
Rumah-rumah yang terendam membuat warga harus beradaptasi dengan kondisi baru, termasuk memindahkan barang-barang penting ke tempat yang lebih tinggi. Aktivitas ini menjadi rutinitas darurat setiap kali air mulai naik dan masuk ke dalam permukiman.
Meski kondisi cukup berat, warga terlihat berusaha menerima keadaan tersebut dengan lapang dada. Mereka memilih untuk tetap bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu kondisi air surut, karena mengungsi bukan selalu menjadi pilihan yang mudah.
Baca Juga:Â Bikin Haru! Guru PJOK Bojonegoro Nekat Lari 4 Km ke Sekolah, Ternyata Ini Alasannya
Perjuangan Warga Mencari Nafkah
Salah satu warga, Asep (42), menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat berjuang di tengah bencana banjir. Ia tetap harus bekerja meski kondisi lingkungan tidak memungkinkan dan akses jalan terendam air setinggi pinggang.
Dengan membawa barang dagangan yang dikemas dalam kantong plastik, Asep berjalan perlahan menembus genangan air demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Setiap langkah yang ia ambil menjadi bentuk perjuangan untuk tetap menjaga pemasukan di tengah situasi sulit.
Asep mengaku bahwa kondisi ini sangat melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Namun, ia tidak memiliki banyak pilihan selain tetap bekerja karena kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa menunggu hingga banjir benar-benar surut.
Anak Sekolah Dan Harapan Di Tengah Banjir
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah juga merasakan dampak langsung dari banjir yang merendam kawasan Dayeuhkolot. Aktivitas belajar tetap berlangsung, meski akses menuju sekolah menjadi sangat terbatas dan penuh tantangan.
Di beberapa titik, warga terpaksa menggunakan perahu rakitan sederhana sebagai alat transportasi darurat. Perahu tersebut dibuat dari bahan seadanya seperti ban dalam truk dan kayu, namun menjadi satu-satunya sarana untuk menyeberangi genangan air.
Seorang anak tampak duduk dengan tenang di atas perahu tersebut, sementara orang tuanya memastikan perjalanan berlangsung aman. Momen ini menunjukkan bagaimana pendidikan tetap diupayakan berjalan meski dalam kondisi bencana yang tidak mudah.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari megapolitan.kompas.com
- Gambar Kedua dari megapolitan.kompas.com