Seorang siswi SMAS Kae, Bima, diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan menjadi calon mahasiswi termuda melalui jalur SNBP 2026.
Prestasi ini menjadi perhatian karena usianya yang masih sangat muda namun sudah mampu bersaing dengan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Keberhasilannya tidak lepas dari kerja keras dalam belajar serta dukungan penuh dari keluarga dan guru di sekolah. Ia juga menunjukkan konsistensi dalam meraih prestasi akademik sejak awal masa sekolah. Simak selengkapnya hanya di Kisah dan Inspirasi dari Masyarakat.
Kisah Anak Petani Bawang Dari Bima
Kisah inspiratif datang dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, di mana seorang siswi muda bernama Kasiati atau Ati berhasil mencuri perhatian publik setelah diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ia kini dikenal sebagai calon mahasiswi termuda di kampus tersebut dan menjadi sorotan karena pencapaiannya yang tidak biasa di usia yang masih sangat belia.
Ati merupakan siswi SMAS Kae, Kecamatan Woha, yang berhasil lolos melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026. Ia diterima di program studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa melalui jalur seleksi yang sangat kompetitif.
Keberhasilannya menjadi perhatian publik karena usianya yang masih sangat muda, yakni 15 tahun 5 bulan, namun sudah mampu bersaing dengan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan akademik dan semangat belajar tidak selalu ditentukan oleh usia.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Latar Belakang Keluarga Sederhana
Ati berasal dari keluarga sederhana di Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Muhammad dan Wahidah yang sehari-hari bekerja sebagai petani bawang merah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kehidupan di lingkungan pedesaan dengan keterbatasan ekonomi membuat Ati tumbuh dalam suasana yang penuh kesederhanaan. Namun kondisi tersebut justru membentuk karakter kuat, disiplin, dan tekad besar dalam dirinya untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi.
Meskipun berasal dari keluarga petani, Ati tidak pernah menjadikan latar belakang ekonomi sebagai penghalang. Dukungan orang tua menjadi faktor penting yang selalu mendorongnya untuk tetap semangat belajar dan mengejar cita-cita setinggi mungkin.
Baca Juga:Â Kisah Keteguhan Warga Dan Pelajar Dayeuhkolot Melawan Banjir Demi Perut Dan Pendidikan
Perjuangan Pendidikan Dan Peran Guru
Keberhasilan Ati tidak lepas dari peran penting lingkungan sekolah, khususnya para guru di SMAS Kae. Salah satu sosok yang berpengaruh adalah guru Bahasa Inggris bernama Baharuddin yang juga merupakan pamannya sendiri.
Baharuddin sejak awal mengetahui bahwa Ati memiliki minat besar di bidang pendidikan, terutama untuk menjadi guru Sekolah Luar Biasa (SLB). Melihat potensi tersebut, ia kemudian memberikan dorongan dan arahan agar Ati mengikuti jalur SNBP.
Atas bimbingan tersebut, Ati mempersiapkan diri dengan serius dan mengikuti proses seleksi dengan penuh keyakinan. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah ia dinyatakan lolos SNBP 2026 di Universitas Negeri Surabaya.
Cita-Cita Menjadi Guru SLB
Ati mengungkapkan bahwa keinginannya menjadi guru SLB sudah muncul sejak lama. Ia memiliki keinginan kuat untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan, khususnya membantu anak-anak berkebutuhan khusus agar mendapatkan hak belajar yang sama.
Baginya, pendidikan merupakan kunci utama untuk mengubah masa depan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di sekitarnya.
Dengan diterimanya di Unesa, Ati bertekad untuk menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan kesempatan ini sebagai langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari TirtoID
- Gambar Kedua dari nusantara.media