Air Banjir Dan Longsor Tak Halangi Dua Santri Aceh, Tujuannya? Mesir!

Air Banjir Dan Longsor Tak Halangi Dua Santri Aceh, Tujuannya? Mesir!

Dua santri Aceh nekat menembus banjir dan longsor demi menuntut ilmu di Mesir, perjuangan mereka bikin haru dan inspiratif.

Air Banjir Dan Longsor Tak Halangi Dua Santri Aceh, Tujuannya? Mesir!

Perjuangan menuntut ilmu tak mengenal halangan bagi dua santri Aceh ini. Meski harus menghadapi banjir dan longsor di perjalanan, semangat mereka tetap membara demi pendidikan di Mesir.

Kisah heroik ini menyentuh banyak hati dan menjadi inspirasi tentang tekad, keberanian, dan dedikasi untuk belajar. Berikut cerita lengkap hanya ada di perjalanan mereka yang penuh tantangan namun sarat makna.

nonton gratis piala dunia 2026 STADIONLIVE LIVE STREAMING WORLD CUP 2026

Latar Belakang Bencana Aceh Yang Menguji Ketangguhan

Aceh dan wilayah Sumatera lainnya dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor yang parah pada akhir November 2025 akibat curah hujan ekstrem secara nasional. Akibatnya, akses jalan darat terputus, jaringan komunikasi lumpuh, dan masyarakat terisolasi di banyak titik.

Dalam situasi sulit ini, kehidupan warga sangat terganggu. Aktivitas harian terhenti, bahkan ketika banyak warga mencoba menyelamatkan diri atau mencari kebutuhan pokok melalui jalur alternatif yang ekstrem.

Dua santri muda asal Aceh justru mendapatkan ujian nyata dari bencana ini ketika mereka berusaha melanjutkan pendidikan tinggi di Mesir. Semangat mereka menghadapi tantangan alam menjadi kisah inspiratif di tengah keterpurukan akibat bencana.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Awal Perjalanan: Tertutupnya Akses Dan Tantangan Medan

Santri pertama, Feri Gunawan, berasal dari Kampung Buntul, Kabupaten Bener Meriah. Ia adalah alumni Dayah Insan Qur’ani (IQ) Aceh Besar yang mendapat kesempatan belajar di Universitas Al‑Azhar, Kairo, Mesir.

Namun, rencana keberangkatannya terhambat karena seluruh akses keluar dari kampung halamannya tertutup oleh banjir dan longsor. Jalan utama tidak bisa dilalui kendaraan, dan jaringan internet hampir lumpuh, memutus komunikasi dengan dunia luar.

Dalam kondisi ini, Feri memutuskan untuk berjalan kaki bersama ayah, saudara, dan pamannya melewati hujan deras, lumpur tebal, serta medan berat demi mencapai tempat yang masih bisa diakses. Langkah kaki menjadi satu‑satunya pilihan untuk menuju Banda Aceh.

Baca Juga: Hidup Pas-Pasan, Cita-Cita Tinggi: Anak Penjual Tebu Raih Impian Ke Al Azhar

Perjuangan Panjang Feri Menuju Banda Aceh

 Perjuangan Panjang Feri Menuju Banda Aceh 700

Perjalanan Feri dan rombongan menembus banjir serta longsor itu penuh risiko. Jalan yang licin dan arus air yang deras terus menerpa mereka. Peralatan dan barang bawaan harus dipanggul sambil terus melangkah, meskipun kondisi fisik sangat melelahkan.

Sesampainya di kawasan Kampung Kem, mereka berhasil mendapatkan ojek yang membawa mereka ke jalur lintas utama Gunung Salak–Krueng Geukueh. Di sini, sedikit sinyal berhasil ditemukan, dan ayah Feri segera menghubungi panitia keberangkatan.

Akhirnya, Feri tiba di Banda Aceh. Esoknya, dengan haru dan pesan penuh makna dari ayahnya, ia berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studi. Ia berkata, “Kalau banjir tak menghentikan kita, maka tak ada alasan untuk berhenti mengejar ilmu.”

Kisah Khalis: Ujian Kesabaran Dan Harapan Yang Tak Pernah Padam

Santri lainnya ialah Khalis Akhyar, alumni Dayah IQ 2024 asal Takengon, Aceh Tengah. Sama seperti Feri, jalur darat dari kampung halamannya juga terputus akibat bencana. Jaringan internet dan akses informasi menjadi tantangan terbesar bagi Khalis.

Selama hampir sepekan, ia tidak mengetahui perkembangan jadwal keberangkatannya ke Mesir karena tidak ada koneksi yang bisa diandalkan. Namun Khalis tidak menyerah. Ia memanfaatkan Wi‑Fi di kantor keuchik untuk menghubungi panitia dan memastikan jadwalnya.

Sempat ada peluang terbang dengan pesawat Hercules milik TNI melalui bandara darurat, namun kapasitas terbatas membuatnya belum terdaftar. Tawaran pesawat komersial ditolak karena harga tiket yang tinggi. Usaha dan kesabaran Khalis akhirnya terjawab saat ada penerbangan tambahan menggunakan helikopter.

Pesan Inspiratif Dan Dampak Perjalanan Mereka

Perjalanan Feri dan Khalis bukan sekadar perjalanan fisik melalui medan berat, tetapi juga perjalanan spiritual dan mental yang penuh ujian. Semangat mereka dalam menuntut ilmu menjadi contoh kuat tentang ketekunan, keikhlasan, dan harapan di tengah musibah besar.

Kisah mereka pun menghangatkan hati banyak orang, terutama di tengah berita duka dari korban banjir dan longsor di Sumatera yang kehilangan rumah, akses jalur, bahkan sanak keluarga. Keberhasilan kedua santri ini memberikan harapan baru bahwa tujuan hidup yang mulia tetap bisa dicapai meski menghadapi rintangan besar.

Perjalanan ini juga mengingatkan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang layak diperjuangkan, bahkan saat musibah mencoba menjatuhkan seseorang. Semoga kisah Feri dan Khalis menginspirasi generasi muda lain untuk tidak pernah menyerah dalam meraih impian mereka.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari kompas.com
  • Gambar Kedua dari kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *