Pertamina dorong transisi energi dengan membangun desa rentan jadi super resisten, siap hadapi krisis dan tantangan masa depan.
Pertamina mengambil langkah strategis di tengah transisi energi nasional. Desa-desa yang sebelumnya rentan kini dibangun menjadi lebih resisten, siap menghadapi krisis energi dan tantangan masa depan. Bagaimana program ini dijalankan dan dampaknya bagi masyarakat lokal? Simak ulasan lengkapnya di Kisah dan Inspirasi dari Masyarakat.
Pertamina Dan Transisi Energi Untuk Desa Rentan
Jumat (3/4/2026) – Di tengah tantangan harga energi global dan ancaman perubahan iklim, Pertamina terus mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) di desa‑desa Indonesia yang rentan secara ekonomi dan lingkungan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mendukung transisi energi nasional, sekaligus memberi nilai tambah bagi masyarakat pedesaan.
Program yang dijalankan ini bertujuan memperkuat ketahanan energi desa sehingga tak lagi tergantung pada energi fosil yang rentan terhadap fluktuasi pasar dan harga. Upaya ini juga membuat desa menjadi lebih siap menghadapi tantangan ekonomi lokal yang berubah cepat.
Pendekatan ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur semata, tetapi juga pemberdayaan masyarakat desa melalui teknologi tepat guna, pendidikan penggunaan energi baru, dan pengembangan kegiatan ekonomi produktif berbasis EBT.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Desa Energi Berdikari: Motor Ketahanan Energi Dan Ekonomi
Program unggulan Desa Energi Berdikari (DEB) dari Pertamina menjadi inti dari upaya memperkuat desa rentan. Di Desa Padang Sakti, Aceh, misalnya, masyarakat mendapatkan akses pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp dengan baterai penyimpanan energi 10 kWh.
Energi yang dihasilkan tidak hanya untuk pencahayaan rumah, tetapi juga mendukung operasional tambak seperti aerator dan mesin pakan, yang meningkatkan produktifitas hingga 40 persen. Produktivitas ini secara langsung memberi dampak nyata terhadap pendapatan warga.
Pendapatan warga setempat meningkat sekitar Rp6–8 juta per bulan, mencerminkan bagaimana energi terbarukan mampu menciptakan siklus ekonomi baru yang berkelanjutan di desa yang sebelumnya sangat rentan secara ekonomi.
Baca Juga: Kisah Seram! Transplantasi Kulit Seluruh Tubuh Wanita Bali Jadi Sorotan Publik
Dampak Sosial Dan Lingkungan Dari Program DEB
Selain manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat desa, program DEB juga memberi dampak lingkungan penting. Energi terbarukan dari PLTS dan teknologi lain seperti mikrohidro dan biogas membantu menekan emisi karbon yang dihasilkan dari pembangkit berbasis fosil.
Menurut catatan, program ini berkontribusi mengurangi emisi sampai 1,09 juta ton CO₂eq per tahun, menunjukkan peran penting transisi energi dalam mendukung mitigasi perubahan iklim.
Nilai ekonomi tahunan yang dihasilkan oleh DEB juga signifikan, mencapai sekitar Rp5,5 miliar, memperlihatkan bahwa program ini bukan sekadar proyek sosial semata, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian lokal.
Pengakuan Internasional Untuk Inisiatif Energi Terbarukan
Usaha nyata Pertamina lewat DEB juga mendapat pengakuan internasional. Bersama 23 perusahaan global seperti Aviva Plc, British Airways. Dan Saudi Aramco, Pertamina dianugerahi Sustainability, Environmental Achievement & Leadership (SEAL) Awards 2026 untuk kategori Inisiatif Lingkungan.
Penghargaan ini mencerminkan keberhasilan Pertamina dalam menerapkan solusi EBT yang berdampak sosial dan lingkungan. Serta keterlibatan langsung masyarakat dalam proses transisi energi.
Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, penghargaan tersebut tak hanya milik perusahaan. Tetapi juga hasil kolaborasi antara masyarakat desa, pemerintah daerah, dan mitra lokal yang terlibat dalam perubahan.
Strategi Pertamina Untuk Masa Depan Energi Desa
Hingga kini, Pertamina telah membangun 252 DEB yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan sebagian besar berada di luar Pulau Jawa untuk menciptakan pemerataan manfaat transisi energi.
Selain membantu ketahanan energi lokal, program ini juga mendorong produksi pangan, dengan jumlah 15,8 ribu ton beras. Dan 890,4 ton bahan pangan non‑beras yang diproduksi melalui aktivitas warga di desa‑desa tersebut.
Ke depan, Pertamina berharap lebih banyak desa dapat menjadi pionir kemandirian energi dan ekonomi, memastikan masyarakat setempat tidak hanya mampu menghadapi dinamika ekonomi global. Tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru berbasis energi bersih.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari finance.detik.com
- Gambar Kedua dari beritambang.com