Hidup sederhana, tapi cita-cita tinggi! Anak penjual tebu di Banda Aceh berhasil kuliah di Al Azhar, Mesir, penuh perjuangan.
Di Banda Aceh, seorang ayah penjual tebu rela bekerja keras demi pendidikan anaknya. Meski hidup pas-pasan, tekad dan perjuangan mereka membuahkan hasil: sang anak berhasil kuliah di Al Azhar, Mesir.
Kisah ini menginspirasi dan membuktikan bahwa ketekunan dan doa bisa membuka jalan menuju impian besar. Simak perjalanan haru dan motivasi di balik sukses ini di Kisah dan Inspirasi dari Masyarakat.
Perjuangan Di Sore Hari Simpang Keudah
Hiruk-pikuk Simpang Keudah, Banda Aceh, di sore hari menjelang berbuka puasa menjadi saksi bisu kerja keras Sayuti. Di balik lapak sederhana pinggir jalan, ia terus menggiling tebu tanpa kenal lelah, meski terik matahari kadang membakar kulitnya.
Pedagang musiman ini menggantungkan harap pada berkah Ramadan. Minuman sari tebu murni buatannya dijual dengan harga terjangkau, Rp5.000 per plastik, sehingga siapa pun bisa membeli untuk sekadar melepas dahaga.
Setiap gelas tebu yang ia sajikan mengandung mimpi besar. Sayuti ingin masa depan anaknya lebih baik, dan setiap tetes sari tebu yang ludes menjadi bukti pengorbanannya untuk pendidikan sang buah hati.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Tantangan Penghasilan Di Tengah Persaingan
Meski terlihat ramai, kondisi ekonomi Sayuti tahun ini cukup menantang. Pada awal Ramadan, pendapatannya berkisar Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari, jumlah yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari tapi belum cukup menutup biaya pendidikan anaknya.
Memasuki pertengahan bulan, omzetnya sempat naik menjadi Rp500.000 hingga Rp600.000. Namun, angka ini masih jauh dari capaian tahun lalu yang bisa mencapai Rp800.000 per hari, sehingga tekanan ekonomi tetap terasa nyata.
Faktor kenaikan harga bahan baku tebu dan menjamurnya pedagang serupa menjadi kendala utama. Persaingan ketat membuat Sayuti harus bekerja lebih lama, mulai dari menyiapkan tebu hingga menjual minuman hingga sore hari menjelang berbuka.
Baca Juga:Â Bangkit Dari Kanker, Ibu Tunggal Ini Ubah Hidup Lewat Usaha Biskuit Gluten-Free
Dukungan Baitul Mal Digital Aceh
Perjuangan Sayuti tidak lepas dari pendampingan Baitul Mal Digital (BMD) Aceh. Selama empat tahun terakhir, ia menerima modal usaha sebesar Rp5 juta, yang dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur lapak dan membeli peralatan giling baru.
Selain bantuan materiil, ia juga dibekali kemampuan manajemen keuangan. Hal ini membuat usahanya lebih tertata, stok tebu lebih terjaga, dan omzet bisa dikelola dengan lebih efisien.
Bagi Sayuti, modal ini bukan hanya untuk bertahan hidup. Lebih dari itu, bantuan ini menjadi sarana untuk mewujudkan mimpi besar menyekolahkan anaknya, Muhammad Khalid Akbar, hingga menembus pendidikan tinggi di luar negeri.
Mimpi Besar Ke Universitas Al Azhar Mesir
Putra sulung Sayuti, Khalid, baru saja diterima di Universitas Al Azhar, Mesir, salah satu institusi pendidikan Islam bergengsi. Pencapaian ini lahir dari kerja keras Khalid mengikuti program tahfidz di Solo dan kelas daring dengan syekh dari Mesir setiap pagi.
Namun, tantangan nyata kini muncul dalam bentuk biaya keberangkatan dan akomodasi awal yang cukup tinggi. Sayuti sempat mengajukan bantuan ke Baitul Mal, tetapi kuota untuk tahun ini sudah terpenuhi, memaksanya mencari alternatif sendiri.
Kondisi ini justru memacu Sayuti untuk bekerja lebih giat. Setiap rupiah dari hasil jualan tebu ia sisihkan demi tiket pesawat sang anak dan biaya awal yang tidak sedikit, menegaskan tekadnya agar Khalid tetap bisa menuntut ilmu.
Harapan Dan Ketekunan Seorang Ayah
Bagi Sayuti, perjuangan ini lebih dari sekadar mencari nafkah. Ia ingin membuktikan bahwa kerja keras seorang ayah bisa membuka jalan bagi masa depan anaknya, meski tantangan hidup kerap menghadang.
Mata Sayuti berkaca-kaca saat berbicara tentang anaknya. Ia menegaskan, yang terpenting adalah Khalid bisa berangkat terlebih dahulu, sementara ia akan terus mencari cara menutupi sisa biaya dengan hasil jualannya.
Di Simpang Keudah, setiap gelas tebu bukan sekadar minuman segar. Ia menjadi simbol ketekunan, pengorbanan, dan harapan, sebuah cerita tentang cinta seorang ayah yang rela bersusah payah agar anaknya dapat menggapai mimpi di negeri jauh.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari kompas.com
- Gambar Kedua dari aceh.antaranews.com