Di lampu merah Buah Batu, seorang mantan petani kini bertahan hidup dengan menjual kopi di jalanan Bandung.
Setiap hari ia berdiri di tepi jalan, menunggu kendaraan berhenti saat lampu merah menyala, sambil menawarkan dagangannya kepada para pengendara yang melintas. Dari pekerjaan sederhana itulah ia mencoba menghidupi keluarga dan menyambung hidup di tengah kerasnya persaingan ekonomi perkotaan yang tidak selalu berpihak pada pekerja kecil seperti dirinya. Simak selengkapnya hanya di Inspirasi dari Masyarakat.
Perjalanan Hidup Dari Desa Ke Kota
Tatan (41) adalah salah satu dari banyak pekerja yang harus beradaptasi dengan perubahan ekonomi demi bertahan hidup. Ia memulai hidupnya sebagai petani di kampung halamannya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Pekerjaan itu ia jalani selama bertahun-tahun untuk menghidupi keluarga kecilnya, termasuk istri dan anak-anaknya.
Sebagai petani, Tatan mengandalkan hasil panen yang tidak selalu stabil. Ada masa ketika pendapatannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, namun ada pula masa sulit ketika hasil pertanian tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga yang terus meningkat. Kondisi ini membuatnya harus berpikir ulang tentang masa depan pekerjaannya.
Perubahan ekonomi yang terjadi di sekitarnya menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia mulai menyadari bahwa bertahan sebagai petani tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin besar. Dari sinilah keputusan berat untuk meninggalkan kampung halaman mulai dipertimbangkan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
š„ Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
š² DOWNLOAD SEKARANG
Keputusan Berat Meninggalkan Profesi Petani
Setelah sekian lama bekerja sebagai petani, Tatan akhirnya memutuskan untuk mencoba peruntungan di kota. Ia melihat bahwa kondisi ekonomi yang tidak menentu membuatnya harus mencari peluang baru yang lebih stabil. Keputusan ini tidak diambil dengan mudah karena ia harus meninggalkan kehidupan yang sudah lama ia jalani.
Pada tahun 2008, Tatan mulai merantau ke Kota Bandung. Ia berharap dapat menemukan pekerjaan yang lebih baik dan mampu memberikan penghasilan yang lebih stabil untuk keluarganya. Namun, kenyataan di kota tidak selalu sesuai dengan harapan yang ia bayangkan sebelumnya.
Meskipun penghasilan awalnya tidak besar, Tatan tetap bertahan. Ia mencoba berbagai cara untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan perkotaan yang serba cepat dan kompetitif. Dalam proses itu, ia mulai melihat peluang kecil yang bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup.
Baca Juga:Ā Dorong Transisi Energi, Pertamina Bikin Desa Rentan Jadi Super Resisten!
Berjualan Kopi Di Lampu Merah Bandung
Salah satu pilihan yang akhirnya dijalani Tatan adalah berjualan kopi di lampu merah kawasan Buah Batu, Bandung. Setiap hari ia menghabiskan waktunya di jalan, menunggu lampu merah berganti sambil menawarkan kopi kepada para pengendara yang melintas. Pekerjaan ini menjadi sumber penghidupan utamanya selama bertahun-tahun.
Meski terlihat sederhana, pekerjaan tersebut memiliki tantangan tersendiri. Tatan harus menghadapi cuaca panas, hujan, hingga kondisi lalu lintas yang padat setiap hari. Namun, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan sabar karena tidak banyak pilihan lain yang bisa ia ambil saat itu.
Di tengah kesibukannya berjualan, Tatan juga menemukan sisi sosial dari pekerjaannya. Ia bertemu dengan banyak orang yang memiliki kisah hidup serupa, sama-sama berjuang di jalanan untuk mencari nafkah. Hal ini membuatnya tidak merasa sendirian dalam menghadapi kerasnya kehidupan kota.
Perjuangan Yang Terus Berlanjut
Tatan telah menjalani pekerjaan sebagai penjual kopi jalanan selama hampir dua dekade. Selama itu pula ia terus berusaha membiayai kehidupan keluarganya, termasuk pendidikan anak-anaknya. Sebagian anaknya kini telah dewasa dan mulai bekerja, meskipun masih ada yang membutuhkan dukungan biaya sekolah.
Meskipun penghasilan dari berjualan kopi tidak besar, Tatan tetap bersyukur karena masih bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Ia juga beberapa kali mendapatkan bantuan dari pemerintah, meskipun menurutnya belum cukup untuk mengubah kondisi hidup secara signifikan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan usianya yang tidak lagi muda, Tatan tetap menyimpan harapan sederhana. Ia berharap suatu hari bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil atau rezeki yang lebih baik. Namun untuk saat ini, ia tetap menjalani hidupnya dengan berjualan kopi di pinggir jalan sebagai bentuk perjuangan untuk keluarganya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dariĀ tvonenews.com
- Gambar Kedua dariĀ bandung.kompas.com