26 tahun mengabdi, Guru Edi bertahan dengan gaji Rp 300 ribu potret pilu perjuangan pendidik di pelosok Subang.
Di tengah semangat mencerdaskan generasi bangsa, masih ada kisah perjuangan yang luput dari perhatian. Guru Edi sosok sederhana di pelosok Subang, telah mengabdikan 26 tahun hidupnya untuk mendidik anak-anak dengan upah yang jauh dari kata layak. Keteguhan dan dedikasinya menjadi cermin realitas kesejahteraan guru yang masih perlu mendapat perhatian serius. Simak berita perjalanan Guru Edi hanya di Kisah dan Inspirasi dari Masyarakat.
Potret Guru PPPK Paruh Waktu Di Subang
Kesejahteraan guru PPPK paruh waktu di Kabupaten Subang masih menjadi persoalan serius. Honor yang diterima belum mencerminkan beban kerja yang mereka jalankan setiap hari. Edi Mulyadi menjadi salah satu contoh nyata dari kondisi tersebut. Ia menerima gaji sekitar Rp 300.000 per bulan, jumlah yang dinilai jauh dari layak.
Ironisnya, nominal itu bahkan lebih kecil dibanding saat dirinya masih berstatus honorer. Padahal tanggung jawab yang diemban tetap sama seperti guru penuh waktu. Tanpa tunjangan dan dengan pembayaran yang kerap tertunda, para guru tetap mengajar. Mereka hadir setiap pagi demi memastikan proses belajar mengajar berjalan normal.
26 Tahun Mengabdi Tanpa Kepastian Kesejahteraan
Edi Mulyadi (56) telah mengajar selama 26 tahun di SDN Sagalaherang IV. Sekolah itu berada di Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang. Selama lebih dari dua dekade, ia mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan dasar. Kesetiaan itu ia jalani tanpa banyak tuntutan, meski penghasilan terbatas.
Statusnya sebagai PPPK paruh waktu baru diperoleh pada akhir 2025. Namun perubahan tersebut belum membawa peningkatan berarti bagi pendapatannya. Bagi Edi, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup. Walau menghadapi keterbatasan fisik sejak lahir, ia tetap berdiri di depan kelas.
Baca Juga: Perjuangan Super! Eka Tempuh Aceh-Bogor Demi Lulus S3 IPB Sambil Jadi Ibu & Dosen
Perjuangan Ganda Sebagai Guru Dan Pengajar Ngaji
Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, Edi tidak hanya mengajar di sekolah dasar. Sepulang mengajar hingga pukul 12.00 WIB, ia melanjutkan aktivitas di madrasah. Selama 10 tahun terakhir, ia menjadi pengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Huda. Honor yang diterima berkisar Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per bulan.
Setiap siang hingga sore, sekitar 50 santri belajar mengaji bersamanya. Kegiatan berlangsung dari pukul 13.00 WIB sampai 16.30 WIB tanpa jeda panjang. Meski tambahan penghasilan itu kecil, ia tetap menjalaninya dengan tekun. Baginya, sedikit rezeki tetap berarti selama diperoleh dengan cara yang baik.
Realitas Guru Ngaji Yang Terpinggirkan
Kondisi yang dialami Edi bukanlah kasus tunggal di Subang. Banyak guru ngaji menghadapi situasi serupa dengan honor minim. Sebagian mengajar secara sukarela tanpa menerima bayaran tetap. Ada pula yang mendapat honor, namun jumlahnya jauh dari standar kebutuhan hidup.
Tak jarang pembayaran dilakukan terlambat, bahkan ada yang tak kunjung cair. Situasi ini membuat para pengajar agama bertahan dengan penuh kesabaran. Padahal peran mereka sangat vital dalam membentuk karakter generasi muda. Mereka menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai moral dan keagamaan.
Harapan Akan Perubahan Dan Kepedulian
Kisah panjang pengabdian Edi mencerminkan ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik. Ia tetap mengajar bukan karena kecukupan, melainkan karena tanggung jawab moral. Selama 26 tahun, ia menyaksikan banyak perubahan kurikulum dan generasi murid. Namun kondisi ekonomi pribadinya nyaris tidak bergerak signifikan.
Harapan akan perhatian pemerintah daerah dan pusat terus disuarakan. Kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan guru dinilai sangat mendesak. Pengabdian tanpa pamrih seharusnya mendapat dukungan yang layak. Agar para pendidik dapat fokus mencetak generasi unggul tanpa dihantui persoalan ekonomi.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.google.com
- Gambar Kedua dari bandung.kompas.com